Pendidikan Membutuhkan Dukungan Dari Berbagai Pihak

 

NGANJUK, 7 Agustus 2018. Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 100 Dsn. Nitis, Ds. Mojoduwur, Kec. Ngetos, mengadakan Sosialisasi Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini bertempat di Masjid Nurul Amin. Sosialisasi ini dihadiri oleh beberapa wali santri Dsn. Nitis, para Ustad dan Ustadzah, karang taruna, dan beberapa perangkat desa. Acara yang bertema “Pendidikan Adalah Aset: Belajar Dengan Menyenangkan” ini berjalan dengan lancar. Terdapat dua pemantik dalam acara ini yaitu, Achmad Munif, MM menyampaikan tentang “Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Gadget Pada Remaja”, dan Sunarno, MA menyampaikan tentang “Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini” berdasarkan tema yang di angkat.

Acara dimulai pada pukul 14.30 dan Usai pada pukul 16.00, materi pertama disampaikan oleh Achmad Munif, MM. Ia menyampaikan dampak positif penggunaan Gadget yang salah satunya adalah smartphone yaitu, mempermudah pekerjaan, dapat mengakses segala apa yang di inginkan, mendukung pembelajaran, dan sebagai media komunikasi jarak jauh. Sedangkan dampak negatifnya adalah, anak-anak atau remaja menjadi tledor, menghambat pekerjaan, dan anak-anak ketagihan bermain game. Namun penggunaan gadget yang menyebabkan beberapa dampak tersebut tentunya tergantung pada setiap individunya. Sedangkan usia remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, maka harus ada pendampingan orang tua, selain itu membekali anak dengan ilmu-ilmu agama juga hal penting yang harus di perhatikan. Pemantik, selain menyampaikan paparan tersebut juga menampilkan 2 video mengenai dampak positif dan negatif penggunaan gadget.

Salah satu untuk merespon arus informasi yang tak terkendali adalah, memilah informasi tersebut (Tabayyun) atau Croscheck informasi, yang terkandung di dalamnya apakah berupa fakta, gosip, berita, ataupun fitnah. Sebuah prasangka atau yang disebut dengan Zhan memiliki dua dampak yaitu, jika benar maka disebut dengan Ghibah, jika salah maka disebut dengan fitnah. Oleh karenannya, sikap tabayyun diperlukan dalam menanggapi setiap informasi.

Mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini yang disampaikan oleh Sunarno, MA, terdapat 2 garis besar yang diampaikan yaitu, apa itu pendidikan dan bagaimana cara mendidik anak usia dini. Pertama, Ia menjelaskan mengenai kategori usia anak usia dini adalah mulai umur 0-6 tahun. Para ahli menjelaskan bahwa, usia dini adalah usia emas bahwa anak-anak dalam tahap ini harus diberikan pendidikan secara bersama-sama, baik dari sekolah, lingkungan, maupun orang tua. Pada tahap ini, orang tua memiliki tugas mendidik anak dengan tepat. Salah satu yang harus di perhatikan adalah kematangan motorik (kematangan raga) anak. Dengan membiarkan anak berlari-lari, memanjat, bermain prosotan, maupun sepak bola adalah melatih kematangan otot-otot (kemampuan motorik) anak. Namun hal ini harus tetap dalam lingkup pendampingan orang tua atau guru. Aspek kedua yang perlu dikembangkan agar optimal selain motorik adalah kognitif, emosi dan sosial. Aspek kognitif dengan memberikan rangsangan positif sebanyak-banyaknya berupa pengalaman-pangalaman baru, melakukan hal-hal baru. Rangsangan berupa pengalaman-pengalaman tersebut akan menjadi catatan-catatan kognitif. Sedangkan emosi dan sosial akan berkembang optimal dengan sesrawungan antara anak-anak. Bermain bersama, saling berbagi, saling membantu bahkan “tukaran” dengan teman pun sebagai proses perkembangan emosi dan sosial.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, ciri khas anak usia dini adalah dolanan, jika anak terlihat cekukrak-cekukruk, diam, tidak mau bergaul dapat di katakana sakit, papar Sunarno. Sakit yang disebut itu terdiri dari 2 yaitu, sakit raga dan sakit jiwa. Sakit jiwa yang dimaksud bukan berarti seseorang harus dimasukkan dalam Rumah Sakit Jiwa, tetapi misalnya sebelum berangkat ke sekolah anak bertengkar dengan kakaknya, dimarahi orang tuanya, atau bertengkar dengan temannya, dimana hal ini menyebabkan anak menjadi diam dan murung.

Kemudian Ia juga menyampaikan mengenai kesuksesan pendidikan yang harus di dukung oleh berbagai pihak. Ia menyebutkan dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa, guru hanya menyumbang 1-14 % dalam membuat anak pintar dan berprestasi, 7-20 % di dukung oleh sekolah dengan perincian seperti fasilitas maupun infrastruktur. Sedangkan 60-80% adalah ditentukan oleh anak itu sendiri, namun berkembangnya anak adalah karena pengaruh pola asuh orang tua. Pola asuh yang harus diperhatikan oleh orang tua adalah mengenai support (dukungan)  yang tidak hanya materi untuk memenuhi anak dalam bersekolah, tetapi juga pendidikan di rumah terkait kedekatan emosional maupun cara mengasuh (memperlakukan anak), kemudian yang perlu diperhatikan adalah kesehatan yang mencakup sehat raga dan sehat jiwa. Ketika anak sehat, maka Ia akan bahagia dan tumbuh sesuai alam perkembangannya.

Selain acara sosialisasi yang di suguhkan, KKN kelompok 100 juga menyediakan sudut baca bagi anak-anak. Buku-buku yang di sediakan adalah dari PAUD, TK, dan SD. Tujuan dari disediakannya sudut baca adalah untuk menarik minat baca anak-anak, belajar membaca dan menulis bersama, dan merangkum salah satu isi buku yang disukainya. Selain tujuan tersebut, adanya sudut baca adalah untuk melancarkan proses sosialisasi karena anak di tempatkan di ruangan khusus untuk sudut baca, sehingga tak hanya orang tua yang memperoleh pengetahuan baru, anak juga mendapatkan haknya memperoleh pengetahuan yaitu dalam hal literasi. (Vita – Penggiat UKM DeDIKASI)

Leave a Reply