The Blog

IAIN Kediri Newsroom – Di sela-sela kesibukan mempersiapkan diri untuk menghadiri acara Annual International Conference of Islamic Studies (AICIS) di Bali tanggal 1 – 4 November 2022, Wahidil Anam selaku Rektor IAIN Kediri, masih menyempatkan diri mencermati perkembangan politik nasional akhir-akhir ini. Secara kebetulan pelaksanaan AICIS di Bali tahun ini bersamaan dengan digelarnya R20 atau Religion of Twenty 2022 yang merupakan forum para pemimpin agama dan sekte-sekte sedunia.

Menghadapi pemilihan umum (pemilu) 2024 mendatang partai politik telah menyiapkan berbagai langkah untuk memenangkan kandidat yang diusungnya. Dalam upaya politik itu, politik identitas seringkali menjadi salah satu strategi yang marak dijadikan sebagai ‘alat perang’.

Politik identitas sendiri diartikan sebagai suatu strategi yang menjadikan suatu entitas tertentu sebagai alat untuk melancarkan agenda politik untuk kepentingan kelompok. Di Indonesia, politik identitas sering dikaitkan dengan isu agama sebagai legitimasi kepentingan politik tertentu dengan mengatasnamakan kepentingan agama.

Menanggapi dinamika politik yang mengarah pada politik identtitas tersebut, Wahidul Anam selaku Rektor IAIN Kediri dengan tegas menolak politik identitas. “Agama tidak sepatutnya menjadi alat dalam politik identitas. Agama menampilkan diri sebagai solusi atas berbagai problem sosial yang muncul. Agama menampilkan nilai-nilai moral dan spiritual tertinggi untuk membawa struktur kekuatan geopolitik dan ekonomi dunia yang kokoh dan manusiawi,” tegas Wahidul Anam.

“Jangan nilai atau norma agama yang mulia dan luhur ini justru dijadikan alat legitimasi konflik antar umat beragama, diskriminasi terhadap kelompok minoritas dan lain sebagainya yang justru menjauhkan dari nilai yang hakiki dari agama,” ungkapnya.

Wahidul Anam yang juga merupakan Koordinator Jaringan Gusdurian Kota Blitar ini mengingatkan agar para umat muslim tidak terpancing terhadap isu politik identitas yang mungkin mencuat. Menurutnya, muslim harus mempunyai tanggung jawab moral dalam mengembangkan pemikiran keagamaan yang baru dari pemikiran yang bersifat teosentris menuju antroposentris karena antroposentris menafsirkan dan menganggap dunia dari segi nilai dan pengalaman manusia.

“Seperti yang disampaikan oleh Fazlurahman, agama dan teks keagamaan harus menjadikan manusia dan kemanusiaan sebagai pusat,” sambungnya.

“Oleh karenanya, agama harus menempatkan isu-isu kemanusiaan dan problematika yang dihadapi umat manusia sebagai hal yang fundamental dalam praktik dan wacana keagamaan,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa ke depan, agama harus memprioritaskan persoalan sosial-kemanusiaan dan problematika umat manusia secara menyeluruh.

“Muslim sebagai intelektual yang terus berkembang sudah harus mulai mengembangkan fikih hubungan antar umat agama, fikih lingkungan hidup, teologi kemanusiaan dan lain sebagainya, sehingga peran global dari agama dapat dirasakan oleh umat manusia secara menyeluruh,” pungkasnya.

Sumber: Humas IAIN Kediri
Penulis : Zuhrufi Latifah
Editor: Ropingi el Ishaq